بسم الله الرحمن الرحيم

قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ . سورة القلم ٤

Artinya : Allah berfirman : “ dan sesungguhnya engkau (Muhammad) niscaya atas budi pekerti yang agung ”.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ. رواه احمد

Artinya : Rosullulloh SAW bersabda “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya budi pekerti”.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  rأَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. رواه أبو داود فى كتاب السنة

Artinya : Rosullulloh SAW bersabda “lebih sempurnanya keimanan orang-orang yang beriman adalah orang yang lebih baik budi pekertinya”.

TATA KRAMA BERPAKAIAN DAN BERHIAS

Bagi laki-laki :

  1. Berpakaian rapi, sopan, dan benar menurut syariat islam. ¹ (HR. Abu Daud Kitab Al Libas Pakaian bawah tidak dibawah mata kaki / nglembreh)
  2. Tidak boleh memakai kain sutera. ² (HR. Tirmidzi Kitab Al Libas)
  3. Tidak memakai celana yang dilubangi / disobek-sobek, ketat, dan ditempeli stiker
  4. Tidak boleh berpakaian menyerupai wanita.³ (HR. Bukhori Kitab Al Libas)
  5. Tidak mewarnai rambut dengan warna hitam. 4(HR. Tirmidzi Kitab Al Libas)
  6. Tidak boleh memakai perhiasan emas.
  7. Tidak mewarnai rambut dengan warna yang tidak pantas.
  8. Memotong rambut dengan rapi. 5 (HR. Abu Daud Kitab At Tarojjil)
  9. Merapihkan kumis. 6 (HR. Bukhori Kitab Al Libas dan HR. Muslim Kitab At-Thoharoh)
  10. Disunnahkan memakai  minyak wangi. 7 (HR. Abu Daud Kitab At-Tarojjil)

Bagi Perempuan :

  1. Berpakaian rapi, sopan, dan benar menurut syariat islam. 8 (QS. An-Nur Ayat 31, QS Al Ahzab Ayat 59, HR. Muslim Kitab Al Libas, dan HR. Abu Daud Kitab Al Libas)
  2. Tidak boleh berpakaian menyerupai laki-laki. 9  (HR. Bukhori Kitab Al Libas)
  3. Tidak boleh memakai rambut palsu dan atau memasangkan. 10  (HR. Bukhori Kitab Al Libas)
  4.  Tidak boleh mencukur gundul.  11 (HR. Nasa’I Kitab Az-Zinah)
  5. Tidak boleh memotong rambut kepala sehingga menyerupai laki-laki. 12 (HR. Bukhori Kitab Al Libas)
  6. Tidak boleh memotong alis. 13 (HR. Bukhori Kitab Al Libas)
  7. Tidak berdandan/ bersolek secara berlebihan.
  8. Tidak boleh memakai wangi-wangian yang semerbak baunya. 14 (HR. Abu Daud Kitab Al Libas. Berkerudung hingga menutup leher dan dada, Pakaian Atas : lengan panjang sampai menutup pergelangan tangan. Pakaian Bawah : menutup mata kaki (nglembreh), Pakaian tidak boleh ketat, tipis / transparan).

TATA KRAMA KETIKA MAKAN

  1. Duduk dengan sopan. 15 (HR. Tirmidzi Kitab Al Ath’amah)
  2. Makan dengan tangan kanan. 16 (HR. Muslim Kitab Al Asyribah)
  3. Memulai makan dengan membaca basmallah 17 (HR. Abu Daud Kitab ath’amah) dan mengakhiri dengan hamdalah  18 (HR. Tirmidzi Kitab Adda’wat)
  4. Mengambil makanan secukupnya dan dihabiskan. 19 (HR. Muslim Kitab Al Asyribah, HR. At Tirmidzi Kitab Al Ath’amah)
  5. Tidak meniup makanan. 20 (HR. Abu Daud Kitab Al Asyribah)
  6. Memulai dari tepi makanan. 21 (HR. At Tirmidzi Kitab Ath’amah)
  7. Tidak berbicara ketika mulut masih penuh dengan makanan.
  8. Tidak minum disela-sela makan (kecuali karena suatu hal)
  9. Mengunyah makanan dengan bibir tertutup sehingga kunyahannya tidak bersuara.
  10. Mengambil makanan yang jatuh ke tempat yang bersih. 22  (HR. Muslim Kitab Al Asyribah)
  11. Tidak memasukkan makanan ke mulut sebelum makanan di dalam mulut habis.
  12. Tidak terdengar suara benturan sendok, garpu, dan piring.
  13. Tidak melakukan hal-hal yang tabu (kentut, bersendawa, dan berdahak)
  14. Ketika membersihkan makanan di gigi, menutup mulut dengan tangan dan tidak membuangnya dihadapan orang lain.
  15. Tidak mencela makanan 23 (HR. Bukhori Kitab Al Ath’amah)
  16. Mendo’akan kepada yang menjamu makanan  24  (HR. Muslim Kitab Asyribah)
  17.  Dalam jamuan makan bersama :
  18. Mendahulukan yang lebih tua
  19. Bila akan mengambil makanan cukup dilihat tidak perlu disentuh atau dicium
  20. Mengambil makanan yang terdekat
  21. Tidak mengambil makanan yang dihidangkan dengan sendok yang sudah digunakan untuk makan
  22. Tidak makan sambil bergurau
    1. Dalam hal makan prasmanan hendaknya setelah mengambil makanan sewajarnya, agar memberi kesempatan kepada yang lain untuk bisa mengambil makanan dengan mudah
    2. Hendaknya makanan yang mendekat pada mulut, bukan mulut yang menjemput/ mendekat pada makanan

 

 

TATA KRAMA KETIKA MINUM

Tata krama ketika minum hampir sama dengan tata krama ketika makan, ditambah dengan hal-hal sebagai berikut :

  1. Memegang gelas pada tangkainya (bila bertangkai)
  2. Apabila disuguhkan cangkir dengan pisin (lepek), diusahakan meminum dengan sekaligus mengangkat pisinnya.
  3. Tidak minum langsung dari bibir teko (nyucup) dan tidak menuangkan langsung kedalam mulut (nglonggo)
  4. Tidak bernafas kedalam gelas dan tidak meneguk /menenggak minuman sekali habis.  25 (HR. Abu daud Kitab Asyribah)
  5. Ketika minum, air minum tidak digunakan untuk berkumur lebih dahulu

TATA KRAMA BERTAMU

  1.  Berpakaian rapi, pantas, dan sopan
  2. Tidak bertamu pada jam-jam istirahat.  26 (QS. An Nur Ayat 58)
  3. Seyogyanya membuat janji terlebih dahulu dan menepatinya, mengingat tuan rumah mungkin mempunyai banyak kesibukan
  4. Mengetuk pintu / membunyikan bel rumah dan mengucapkan salam 27 (QS. An Nur Ayat 27)
  5.  Bila sudah mengucapkan salam 3x tidak ada jawaban sebaiknya pergi 28 (HR. Muslim Kitab Al Adab)
  6. Tidak boleh mengintip atau melongok kedalam rumah, walaupun pintu atau jendela terbuka 29 (HR. Bukhori Kitab Al Isti’dzan)
  7. Bila ditanya “siapa itu ?”, menjawabnya dengan menyebut nama 30 (HR. Bukhori Kitab Al Isti’dzan)
  8. Tidak boleh masuk dan duduk sebelum dipersilahkan.
  9. Melepas sepatu / sandal sebelum masuk rumah atau menyelesaikannya.
  10. Menempati tempat duduk yang dipersiapkan untuk tamu (tidak menempati tempat duduk tuan rumah).
  11. Bila tuan rumah bukan mahromnya dan hanya satu orang, maka cukup di luar rumah dan bicara  seperlunya.
  12. Tidak makan dan minum hidangan yang disuguhkan sebelum dipersilahkan.
  13. Sebaiknya mau mencicipi / menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah.
  14. Bila hidangan  yang disuguhkan merupakan pantangan, supaya menolak dengan sopan.
  15. Apabila bermalam, sebelum pulang hendaknya merapikan tempat tidurnya.
  16. Apabila membawa anak kecil supaya menjaganya dengan baik sehingga tidak mengecewakan tuan rumah.
  17. Apabila melakukan sesuatu yang mengecewakan tuan rumah (misalnya : merusak barang, ngompol, dll.)
  18. Sebelum pulang, hendaknya minta maaf, mengucapkan syukur / terima kasih atas semua kebaikan tuan rumah dan mengucapkan salam.

TATA KRAMA MENERIMA TAMU

  1. Berpakaian rapi, pantas, dan sopan 31 (HR. Bukhori Kitab Al Jihad wa Al Sayr)
  2. Menyambut dan menerima tamu dengan ramah (grapyak)
  3. Mempersilahkan masuk dan duduk.
  4. Bila tuan rumah sendirian dan tamu bukan mahromnya juga sendirian, seyogyanya tidak dipersilahkan masuk kedalam rumah dan bicara seperlunya saja.
  5. Memuliakan tamu dengan memberi penghormatan bilma’ruf sesuai dengan kemampuan.
  6. Menyuguhkan hidangan / jamuan dengan menggunakan nampan.
  7. Tidak menyuguhkan minuman dengan memegang bibir gelas.
  8. Bila tamu bukan mahromnya, seyogyanya tidak menyuguhkan sendiri secara langsung.
  9. Mempersilahkan tamu untuk menikmati hidangan.
  10. Bila tamu  bukan mahromnya sebaiknya tidak duduk dengan berhadapan dan tidak menatap langsung.
  11. Apabila dalam menerima tamu waktunya terbatas karena suatu hal, maka hendaknya menyampaikan secara terus terang dan sopan.
  12. Bila tamu telah berpamitan, seyogyanya ikut mengantarkan keluar rumah untuk melepas kepergiannya.

TATA KRAMA BERBICARA DENGAN ORANG LAIN (BERCAKAP-CAKAP)

  1. Berbahasa yang baik dan sopan (papan – empan – adepan), menghindari kata-kata yang kotor dan menyakitkan hati. 32 (HR. Bukhori Kitab Al Adab)
  2. Bila berbicara dengan orang yang lebih tua/ dituakan, hendaknya pandangan mata agak ditundukan dan dalam bertutur kata dengan nada suara yang lebih rendah. 33 (QS. Luqman Ayat 19)
  3. Membiasakan kata-kata “maaf” pada awal dan akhir pembicaraan
  4. Dalam berbahasa daerah tidak boleh memposisikan diri lebih tinggi dari lawan bicara. Contoh bahasa jawa : “kulo sampun dahar”, “dalem bade kondur”, “kulo paringi”, seharusnya : “kulo sampun nedho”, dalem badhe wangsul”, kulo caosi/ sukani” dll.
  5. Memperhatikan dan mengarahkan pandangan kepada lawan bicara dengan sopan.
  6. Memberi kesempatan kepada lawan bicara untuk bicara (tidak mendominasi pembicaraan)
  7. Tidak memotong pembicaraan lawan bicara.
  8. Tidak berbicara sambil berkacak pinggang atau menunjuk-nunjuk kearah lawan bicara.
  9. Tidak mempergunjingkan atau membicarakan aib orang lain (ghibah). 34 (QS. Al Hujurat Ayat 12, HR. muslim Kitab Al Adab)
  10. Bila bertiga :
  11. Tidak berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh salah satu orang dari mereka.
  12. Tidak berbisik-bisik berdua tanpa memperdulikan teman yang lain. 35 (HR. Bukhori Kitab Al Isti’dzan)
    1. Menghindari berkata dusta, meskipun bermaksud melucu. 36 (HR. Abu Daud Kitab Al Adab)
    2. Menghindari bergurau yang berlebihan dan gojlog-gojlogan. 37 (HR. Tirmidzi Kitab Al Zuhud)

TATA KRAMA TIDUR

  1. Dianjurkan berwudlu sebelum tidur. 38 (HR. Bukhori Kitab Ad-Da’awat)
  2. Membersihkan tempat tidur. 39 (HR. Bukhori Kitab Ad-Da’awat)
  3. Mengawali tidur dengan miring ke kanan. 40 (HR. Bukhori Kitab Ad-Da’awat)
  4. Tidak boleh tidur dengan tengkurap. 41 (HR. Abu Daud Kitab Al Adab)
  5. Tidak tidur ditempat yang membahayakan.
  6. Jika tidur ditempat umum (misal : masjid) bila bersarung supaya memakai celana.
  7. Membaca doa sebelum tidur dan setelah bangun tidur. 42 (HR. Bukhori Kitab Ad-Da’awat)
  8. Merapikan kembali tempat tidur setelah bangun tidur.

TATA KRAMA BERJALAN

  1. Tidak menyeret sandal atau menghentakkan kaki. 43 (HR. Tirmidzi Kitab Al-Manaqib)
  2. Mengucapkan salam atau menyapa dengan ramah bila berpapasan dengan orang lain. 44 (HR. Bukhori Kitab Al Isti’dzan, HR. Tirmidzi Kitab Al Birri wa Al shilah)
  3. Mengucapkan salam atau permisi bila melintas / melewati orang yang sedang duduk. 45 (HR. Bukhori Kitab Al Isti’dzan)
  4. Bila berjalan bersama, tidak berjajar (rampak-rampak), sehingga mengganggu orang lain.
  5. Membuang / menyingkirkan dari jalan segala sesuatu yang membahayakan. 46 (HR. Muslim Kitab Al Iman)
  6. Tidak berjalan sambil berkacak pinggang.
  7. Tidak usil dan mengganggu orang lain.

TATA KRAMA MENGENDARAI SEPEDA / MOTOR / MOBIL

  1. Memakai helm standar, membawa SIM dan STNK (bagi pengendara kendaraan bermotor).
  2. Menggunakan knalpot motor yang standar (tidak diblong).
  3. Menjaga kelengkapan kendaraan.
  4. Tidak menghias helm dan sepeda motor dengan tulisan atau gambar yang tidak sopan.
  5. Mentaati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas.
  6. Tidak ngebut terutama ketika melewati gang/ perkampungan.
  7. Mengucapkan salam atau menyapa / permisi ketika berpapasan dengan orang yang berjalan kaki / sedang duduk di gang. 47 (HR. Bukhori Kitab Al Isti’dzan)
  8. Tidak menggeber-geberkan/ memainkan gas motor.
  9. Tidak berboncengan tiga orang dewasa atau lebih.
  10. Tidak mengoperasikan HP.

TATA KRAMA TERHADAP KEDUA ORANG TUA

  1. Bertutur kata dengan bahasa yang halus dan baik. 48 (QS. Al Isro’ Ayat 23)
  2. Nada suara lebih rendah. 49 (QS. Al Isro’ Ayat 23)
  3. Tidak memotong pembicaraan.
  4. Apabila dipanggil segera menjawab dan mendatangi.
  5. Mengerjakan / mentaati perintah-perintah orang tua selama tidak maksiat. 50 (QS. Luqman Ayat 15)
  6. Membantu meringankan kesibukan / pekerjaan orang tua.
  7. Menjaga nama baik dan kehormatan kedua orang tua.
  8. Mendahulukan kedua orang tua pada saat makan / minum. 51 (HR. Nukhori Kitab Al Adab)
  9. Mendahulukan kepentingan kedua orang tua dari pada diri sendiri.
  10. Merawat orang tua ketika sakit.
  11. Berpamitan ketika akan bepergian.
  12. Berjabat tangan dengan mencium tangan keduanya. 52 (HR. Abu Daud Kitab Al Adab)
  13. Bila ada masalah dalam keluarga, member saran yang baik dengan sikap yang sopan.
  14. Ketika punya masalah mengutamakan curhat kepada kedua orang tua.
  15. Tidak memaksakan kehendak (meminta sesuatu tanpa mempertimbangkan kemampuan kedua orang tua)
  16. Tidak meminta sesuatu dengan sak deg sak nyet (seketika harus dikabulkan).
  17. Segera meminta maaf apabila melakukan kesalahan/ menyakiti hati kedua orang tua.
  18. Selalu meminta keridloan dan meminta doa yang baik dari kedua orang tua. 53 (HR. Tirmidzi Kitab Al birri wa As-shilah)
  19. Selalu mendoakan kedua orang tua untuk kebaikan dunia dan akhirat. 54 (QS. Al Isro’ Ayat 24)
  20. Berbuat baik atau membalas kebaikan kedua orang tua dengan meramut dan merawat sampai akhir hayatnya, terutama masalah agamanya.
  21. Berusaha mewujudkan harapan dan cita-citanya.

TATA KRAMA TERHADAP YANG LEBIH TUA / YANG DITUAKAN

  1. Bertutur kata dengan bahasa yang halus dan baik.
  2. Mendahului salam / menyapa.
  3. Memanggil dengan awalan sebutan yang baik (mbah, bapak, ibu, mas, mbak, dll.)
  4. Berjabat tangan dengan agak menundukkan kepala dan lebih baik sambil mencium tangannya. 55 (HR. Abu Daud Kitab Al Adab)
  5. Segera menjawab dan mendatangi bila dipanggil.
  6. Bila melintas di depannya, mengucapkan permisi sambil agak membungkukkan badan.
  7. Bila orang yang lebih tua sedang duduk, tidak berdiri disekitarnya.
  8. Tidak duduk ditempat yang lebih tinggi dari pada tempat duduk orang yang lebih tua.
  9. Bila menunjukkan sesuatu menggunakan ibu jari tangan kanan.
  10. Mendahulukan orang yang lebih tua pada saat makan bersama.
  11. Membantu meringankan kerepotannya meskipun tidak diminta.
  12. Tidak ikut bergabung / nimbrung pembicaraanya.

TATA KRAMA BERTELPON

  1. Mengucapkan salam.
  2. Menyebutkan identitas (nama dan alamat).
  3. Berbicara dengan bahasa yang sopan, ramah, singkat, dan jelas (sebelum menelpon seyogyanya menyiapkan hal-hal yang akan dibicarakan).
  4. Bila ingin berbicara dengan selain yang menerima telpon, meminta tolong / amal sholih dipanggilkan dengan kalimat yang baik.
  5. Tidak menelpon pada jam-jam istirahat kecuali keadaan darurat.
  6. Mengucapkan kalimat syukur dan salam sebelum mengakhiri pembicaraan.
  7. Meletakkan gagang telpon dengan perlahan.

TATA KRAMA DALAM PERGAULAN

  1. Menghormat kepada orang yang lebih tua.
  2. Tidak membuka barang pribadi milik orang lain tanpa izin (seperti : almari, tas, buku harian, HP, file, dll). 56 (HR. Abu Daud Kitab As Sholah)
  3. Menjaga privasi dan kehormatan orang lain.
  4. Tidak duduk diantara dua orang tanpa seizing keduanya. 57 (HR. Abu Daud Kitab Al Adab)
  5. Tidak memanggil dengan panggilan / julukan yang tidak baik / dibenci. 58 (QS. Al Hujurat Ayat 11)
  6. Tidak membunyikan tape/ radio/ TV/ dengan suara keras.
  7. Tidak mengejek, menghina, menggunjing, dan mengadu domba orang lain. 59 (QS. Al Hujurat Ayat 11, HR. Bukhori Kitab Al Adab)
  8. Tidak kikir/ pelit. 60(HR. Tirmidzi Kitab Al Birri wa As-Shilah)
  9. Tidak mengganggu orang yang sedang istirahat.
  10. Tidak pamer, sehingga menimbulkan / memancing kecemburuan dan kedengkian.
  11. Memperlihatkan rasa senang dan mendoakan baik atas kenikmatan, keberhasilan dan prestasi orang lain.
  12. Bila meminjam sesuatu segera mengembalikan dengan baik.
  13. Menghargai pemberian orang lain walaupun tidak menyukainya.
  14. Menghargai pendapat dan karya orang lain.
  15. Menepati janji. 61 (QS. Al Maidah Ayat 1)
  16. Memenuhi undangan selagi tidak maksiat. 62 (HR. Bukhori Kitab Al Janaiz)
  17. Membesuk orang yang sedang sakit. 63 (HR. Bukhori Kitab Al Janaiz)
  18. Membiasakan berjabat tangan dengan lembut ketika bertemu.
  19. Tidak berjabat tangan dengan orang yang bukan mahromnya. 64 (HR. At Thobroni Fi Al Kabir)

TATA KRAMA TA”ZIAH

  1. Berpakaian yang sopan dan pantas.
  2. Turut berkabung dan berbela sungkawa.
  3. Menghibur hati keluarga yang ditinggal, agar tabah dan sabar.
  4. Menyolati jenazah. 65 (HR. Bukhori Kitab Al Janaiz  dan HR. Muslim Kitab Al Janaiz)
  5. Membawa jenazah ke kuburan dengan cepat tapi tidak tergessa-gesa sampai jenazah tergoncang-goncang. 66 (HR. Bukhori Kitab al janaiz)
  6. Mengantarkan jenazah ke kuburan hingga selesai pemakaman (bagi laki-laki). 67 (HR. Muslim Kitab Al Janaiz)
  7. Diusahakan melepas sandal/ sepatu ketika memasuki area pemakaman. 68 (HR. Abu Daud Kitab Al Janaiz)
  8. Selama pemakaman berlangsung tidak bergurau. 69 (HR. Ibnu Majah Kitab Al Janaiz)
  9. Membantu proses pemakaman hingga selesai.
  10. Memberi bantuan makanan, minuman, atau uang kepada keluarga yang ditinggal sesuai dengan kemampuan. 70 (HR. Abu Daud Kitab Al Janaiz)

HAL – HAL YANG TIDAK PANTAS DILAKUKAN DIHADAPAN ORANG LAIN

  1. Membersihkan gigi dari sisa makanan (slilit), dengan mulut dibiarkan terbuka (tidak menutup dengan tangan)
  2. Batuk dan bersin tanpa menutup mulut.
  3. Menguap dengan membiarkan mulut ternganga (meskipun tidak ada orang lain). 71 (HR. Abu Daud Kitab Al Adab)
  4. Bersendawa (glegekan) dengan tidak menutup mulut.
  5. Kentut, meludah / mengeluarkan dahak dan membuang ingus.
  6. Membersihkan hidung (ngupil) dan telinga.
  7. Menuding-nuding terhadap orang lain yang bukan semestinya.

MEMELIHARA KEBERSIHAN DIRI

Antara lain :

  1. Diusahakan rajin mandi setiap hari dengan memakai sabun dan sejenisnya.
  2. Rajin berkumur dan bersiwak/ menggosok gigi. 72 (HR. Bukhori Kitab As-Shoum)
  3. Membersihkan kotoran mata, hidung, telinga, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan mencabuti bulu ketiak, dsb.
  4. Rajin mencuci pakaian.

 

Iklan

Jakarta (ANTARA News) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) meminta masyarakat untuk tidak terprovokasi aksi terorisme yang mengatasnamakan agama dengan alasan membela kasus kalangan Muslim tertentu.

Ketua MUI Slamet Effendi Yusuf mengatakan apapun tindakan kekerasan yang memakan korban jiwa tidak dibenarkan atas nama agama dan negara. Oleh karena itu, MUI menilai apa yang dilakukan para pelaku teror dengan dalih membela kaum Muslim di negara lain sudah melanggar aturan yang ada.

“Kami menyesalkan apa yang telah dilakukan para pelaku teror ini, apalagi korbannya juga umat Muslim itu sendiri. Masalah umat Islam Rohingya yang menjadi alasan mereka tentunya harus bisa dipisahkan karena masalah itu sudah ada yang menangani bahkan Indonesia telah mengurus khusus Bapak Jusuf Kalla untuk menyelesaikannya. Saya kira itu sudah cukup,” katanya disela-sela acara siraturahmi dengan seluruh umat Islam di DKI di kantor DPP LDII Jakarta, Selasa malam.

Menurut Slamet Effendi, kedatangan Ketua PMI dalam menyelesaikan masalah tersebut sudah menunjuk kan etikad baik pemerintah indonesia dalam ikut serta mempererat kerukunan antarumat beragama di dunia termasuk di Myanmar.

“Kedatangan Pak Kalla di sana ini kita harapkan memberikan pembelajaran bagi warga Myanmar untuk menghargai pentingnya kerukunan antar umat beragama seperti di Indonesia,” katanya.

Sementara itu ketua DPP LDII Bidang Da’wah Chriswanto Santoso mengajak seluruh ulama di Indonesia untuk memberikan pemahaman agama yang lebih medalam kepada para santrinya agar kasus terorisme dapat ditekan dan dihilangkan.

“Kami bersama MUI akan terus menjalin komunkasi kepada seluruh Ulama agar dapat terus mengedepankan dakwah yang tidak mengedepankan kekerasan,” katanya.

Chriswanto menjelaskan meski demikian aparat keamanan diminta untuk kerja lebih ekstra dalam menditeksi segala bentuk gerakan terorisme secara dini agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban.

“Bayangkan jika yang menjadi korban itu menjadi tulang punggung keluarga mereka, apalagi mereka juga seorang muslim. Saya kira koordinasi antar-intelejen, dan peran serta masyarakat diperlukan guna mengatasi aksi ini,” jelasnya.

Chriswanto menambahkan, bentuk komunikasi yang efektif bisa dilakukan aparat keamanan dalam mencegah terorisme adalah dengan aktif memberikan pengertian dan pertemuan dengan tokoh-tokoh agama serta tokoh adat, tanpa harus menakut-nakuti mereka.(*)

Editor: Ruslan Burhani

Akhlaq atau watak sifat orang iman adalah :

  1. Agamanya kuat
  2. Tegas tetapi tetap lembut (bijaksana)
  3. Keimanannya selalu mantap
  4. Selalu merasa kurang akan ilmu (pengetahuan)
  5. Dalam keadaan berkecukupan merasa kuatir apabila melanggar dan menentang Alloh
  6. Bijaksana dalam ilmu yang dimilikinya, merasa kuatir tentang amal yang dikerjakan belum sesuai dengan ilmu yang dimilikinya
  7. Berpenampilan bersahaja (samadya) walaupun dalam keadaan berkecukupan (kaya)
  8. Berhias dalam keadaan melarat, tidak menunjukkan kekurangan hartanya
  9. Merasa berdosa dari sifat serakah
  10. Bekerja yang halal
  11. Membiasakan perbuatan baik
  12. Trengginas/cekatan dan pemberani dalam menetapi kebenaran
  13. Mencegah perbuatan dan niat jelek (syahwat)
  14. Sayang kepada orang miskin
  15. Dalam keadaan dimarahi/tertekan tidak sampai melakukan pelanggaran
  16. Dalam keadaan disenangi/dipuji tidak terlena melakukan perbuatan dosa
  17. Tidak menyia-nyiakan terhadap titipan (amanat)
  18. Tidak dengki (membenci)
  19. Tidak  nyacat (mencela)
  20. Tidak melaknat
  21. Berani mengakui kesalahan walaupun tidak ada yang menyaksikan
  22. Tidak memberikan julukan yang jelek
  23. Sholatnya khusyu’
  24. Cepat-cepat (senang) menunaikan zakat
  25. Tetap tenang dalam menghadapi gegeran (cobaan)
  26. Bersyukur dalam waktu luang/longgar
  27. Menerima ing pandhum (Menerima dan bersyukur terhadap pemberian Alloh)
  28. Tidak mengambil alih (menghaki/nyrobot) pada yang bukan miliknya
  29. Tidak mengumpulkan marah (dendam kesumat)
  30. Tidak dikalahkan oleh sifat pelit
  31. Selalu berusaha untuk melakukan kebaikan
  32. Dalam pergaulan tidak sampai melakukan pelanggaran
  33. Berbicara menyesuaikan dengan lawan bicara
  34. Dalam keadaan dianiaya dan didurhakai tetap sabar

 

Di dalam hadist diterangkan :

 

وقالر صلى الله عليه وسلم ان من اخلاق المؤمن قوة في دين وحزم في لين وايمان في يقين وحرصا في علم وشفقة في مقة وحلم في علم وقصدا في غنى وتجملا في فاقة وتحرجاعن طمع وكسبا في حلال وبرا في استقامة ونشاطا في هدى ونهيا عن شهوة ورحمة للمجهود وان المؤمن من عباد الله لايحيف على من يبغض ولا ياءثم في من يحب ولا يضيع مااستودع ولا يحسد ولا يطعن ولا يلعن ويعترف بالحق وان لم يشهد عليه ولا يتنابز بالالقاب في الصلاة متخشعا الى الزكاة مسرعا في الزلازل وقورا في الرخاء شكورا قانعا بالدى له لايدعى ماليس له ولا يجمع فى الغيظ ولا يغلبه الشح عن معروف يريده يخالط الناس كي يعلم ويناطقهم كي يفهم وان ظلم وبغي عليه صبر حتى يكون الرحمن هو الدي ينتصر له  (رواه الحاكم بيد الاخبر)

Sungguh luhur dan mulianya akhlak orang iman, sehingga tiada imbalan yang pantas kecuali ampunan dan rahmat Alloh baik di dunia maupun di akherat kelak. Sehingga Rosululloh SAW memerintahkan kepada umatnya untuk selalu bertakwa kepada Alloh dimana saja, kapan saja dan walau dalam keadaan bagaimana saja serta melakukan kebaikan-kebaikan apabila terlanjur telah melakukan kejelekan. Di dalam pergaulan juga diperintahkan untuk bergaul dengan akhlak yang baik, akhlak yang luhur luhuring budi.

Imam Al Hakim meriwayatkan bahwa antara nabi Nuh ‘alaihi salam dan nabi Adam ‘alaihis salam itu ada sepuluh generasi, semuannya di atas satu syariat (agama) yang benar. Lantas mereka kemudian berselisih, maka Alloh mengutus para nabi kepada mereka dengan memberi kabar gembira dan kabar yang menakutkan. Syetan laknatullah telah menghiasi kepada kaum nabi Nuh dengan pemujaan/peribadatan kepada patung-patung. Pertama kali yang dilakukan syetan adalah menghiasi mereka dengan mengagungkan kuburan-kuburan dan nyepi/nepi/bersemedi/bermeditasi di atasnya.

 

Imam Bukhori meriwayatkan dari shohabat Ibnu Abbas dia berkata tentang patung berhala Wad, Suwaa’, Yaghut’, Ya’uq dan Naser. Bahwa semua ini adalah merupakan nama-nama orang yang sholeh dari kaumnya nabi Nuh. Ketika mereka wafat, syetan membisikkan kepada mereka (kaum Nuh), “Dirikanlah tugu-tugu di tempat duduk mereka dan masing-masing tugu berilah nama dengan nama nama-nama mereka”. Maka kaum Nuh mengerjakan bisikan syetan tersebut, dan asalnya mereka hanya mendirikan tugu saja tidak menyembah/memuja tugu/patung tersebut. Sehingga setelah mati semua generasi yang membangun tugu dan telah hilang ilmu pengetahuan tentang itu, maka disembahlah/dipujalah patung yang didirikan oleh nenek moyang mereka.

 

Seandainya syetan laknat itu meyuruh mereka sejak awal untuk menyembah/memuja patung yang mereka dirikan niscaya mereka pasti menolak dan tidak akan mentaatinya. Tetapi syetan menyuruh mereka hanya untuk membangun tugu yang bergambar orang-orang yang sholeh, dengan tujuan supaya orang-orang dari generasi berikutnya mau sholat di sekitar patung, kemudian generasi berikutnya diarahkan lagi untuk memuja /menyembah kepada patung-patung tersebut bukan lagi beribadah kepada Alloh di dekat patung.

 

Selanjutnya ketika Alloh mengutus nabi Nuh ‘alaihi salam kepada kaumnya dan beliau menetap di situ untuk mengajak mereka untuk kembali ke jalan Alloh, kaumnya sombong dan menolak kepada ajakan tersebut sehingga Alloh menghancurkan mereka dengan angin topan.

 

Sesudah itu, kaum ‘Ad juga menyembah banyak berhala antara lain menyembah berhala Huda, Shuda, dan Shomuda, maka Alloh mengutus nabi Hud ‘alaihi salam  untuk mengajak kembali ke jalan Alloh tetapi mereka membangkang sehingga mereka dirusak dihancurkan oleh Alloh dengan angin. Begitu pula dengan kaum Stamud, maka Alloh mengutus kepada nabi Sholeh ‘alaihi salam tetapi mereka juga membangkangnya, maka Alloh menghacurkan mereka pula dengan suara ledakan/dentuman/suara yang sangat keras. Kemudian kaumnya nabi Ibrohim ‘alaihi salam mereka menyembah/memuja matahari, bulan, bintang, patung-patung berhala dan lain-lain. Demikian pula orang-orang Bani Isroil Awalnya mereka meyembah patung anak sapi dan orang-orang berikutnya meyembah kepada Uzeir dan orang-orang Nasrani menyembah nabi Isa Al Masih. Orang-orang Majusi meyembah/memuja api, kaum lain memuja air, dan tiap kaum memuja kepada apa yang syetan menghiasinya sesuai kemampuan akal mereka.

 

Ini semua terjadi pada umat-umat dahulu kala dimana mereka mempunyai keturunan yang diwarisi dengan peribadatan nenek moyang mereka. Pada akhirnya patung-patung kaum nabi Nuh itu dipindahkan ke negara Arab pada zaman Amr bin Luhayyi Al Khuza’i (mudah-mudahan Alloh memberikan kejelakan kepadanya) seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Ibn Abbas dia berkata, “Adapun patung Wad ada di Dumatiljandal milik Bani Kalb dan patung Suwaa’ milik Bani Hudzail, patung Yaghuts dimiliki oleh Bani Murad, kemudian Bani Ghutoif di Al Jauf/Al Jaun di dekat kampung Saba’, patung Ya’uq milik Bani Hamdan dan adapun patung Nasr itu milik kaum Himyar bagi keluarga Dzikila”.

 

Imam Bukhori meriwayatkan, Rosululloh SAW bersabda :”Aku melihat Amr bin Luhayyi Al Khuza’i menarik ususnya di dalam neraka dan dia itu pertama kalinya orang yang membiarkan beberapa binatang ternak Saaibah untuk berhala (karena sembuh dari penyakit atau selamat dari peperangan) Dalam lafadz lain dan pertama kali orang yang mengubah agama nabi Ibrohim ‘alaihi salam”.

 

Imam Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Abi Huroiroh dia berkata, “Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda kepada Aktsam bin Al Jauf (Al Jaun) Al Khuza’i, “Wahai Aktsam, aku melihat Amr bin Luhayyi bin Qo’mati bin Khondaf menyeret ususnya di neraka maka aku tidak melihat orang yang paling mirip dengannya dan dia mirip denganmu kecuali kamu.” Aktsam berkata, “Ya Rosululloh, miripnya aku dengannya itu tidak membahayakan kepadaku.” Beliau berkata, “Tidak, karena sesungguhnya kamu itu seorang mukmin dan dia orang kafir, sesungguhnya dia itu pertama kalinya orang yang mengubah agama nabi Ismail ‘alaihi salam maka dialah yang telah membangun patung-patung, dan pertama kalinya orang yang membelah telinga unta Bahirah yang diserahkan untuk berhala, serta membiarkan/membebaskan unta tersebut untuk tidak boleh dinaiki punggungnya, kemudian unta Saaibah yang diserahkan untuk berhala dan unta Ham (unta pemacek/pejantan) yant tidak boleh dinaiki punggungnya dan tidak boleh untuk mengangkut barang karena diserahkan kepada berhala”.

 

Ibnu Hisyam meriwayatkan, “Sebagian ahli ilmu telah menceritakan kepadaku sesungguhnya Amr bin Luhayyi keluar dari kota Mekah menuju ke kota Syam untuk mengurus keperluannya. Ketika dia sampai di kota Ma’ab bagian tanah Balqo’, di situ bertempat orang-orang Amaliqoh dari anaknya Amliq bin Dawud bin Sam bin Nuh. Amr melihat mereka meyembah patung berhala. Maka dia bertanya kepada mereka, “Apakah patung berhala yang kamu sembah ini?” Mereka menjawab’ “Ini adalah patung-patung yang kami sembah. Kami minta hujan kepada mereka (patung), maka patung-patung tersebut memberi hujan kepada kami. Kami meminta pertolongan kepada patung-patung maka mereka menolong kepada kami”. Amr meminta, “Tidakkah kalian memberi satu patung kepadaku yang akan kubawa ke tanah Arab agar mereka beribadah kepada patung tersebut?” Maka mereka memberi satu patung kepada Amr bin Luhayyi yang bernama patung Hubal. Maka datanglah Amr bin Luhayyi dengan patungnya ke Mekah dan menempatkan patungnya tersebut di Mekah dan dia menyuruh bangsa Arab supaya menyembah kepada patung Hubal dan mengagungkannya. Imam Ibnu Ishaq menceritakan, “Bangsa Arab juga menjadikan patung Isaf dan Nailah di atas sumur Zamzam dan menyembelih binatang ternak untuk mereka berdua. Isaf dan Nailah itu seorang laki-laki dan seorang perempuan dari Jurhum yang berzina di dalam Ka’bah. Oleh Alloh mereka dijadikan dua bongkah batu. Orang Arab juga meletakkan 360 patung di sekitar kabah.

 

Imam Ibnu Ishaq meriwayatkan, “Di tanah Khaulan ada sebuah patung yang diberi nama Ammu-anas, penduduknya membagi harta mereka berupa binatang ternak dan hasil pertanian mereka kepada patung Ammu-anas dan kepada Alloh Ta’ala. Hak-hak Alloh (menurut persangkaan mereka) kalau masuk ke dalam haknya patung Ammu-anas maka dibiarkan saja, tetapi kalau hak patung Ammu-anas masuk ke dalam haknya Alloh maka mereka mengembalikannya kepada patung Ammu-anas”. Dalam kasus ini Alloh menurunkan ayat dalam Surat Al An-am ayat 136 :

 

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ*

“Mereka telah menjadikan bagi Alloh sebagian dari apa-apa yang mereka bikin, suatu pembagian hasil pertanian dan binatang ternak. Maka mereka berkata, “Ini untuk Alloh (dengan persangkaan mereka-yang bathil) dan ini untuk patung-patung berhala kami. Apa-apa yang menjadi milik patung berhala mereka tidak sampai kepada Alloh dan apa-apa yang menjadi milik Alloh maka ia akan sampai kepada patung berhala mereka. Alangkah jeleknya apa-apa yang mereka hukumi.

 

Ibnu Ishaaq juga meriwayatkan bahwa Bani Milkan bin Kinanah mempunyai sebuah patung pemujaan yang diberi nama Sa’ad. Ia itu sebongkah batu yang ada di sebuah tanah kosong yang luas dan lengang. Pada suatu saat ada seorang dari Bani Milkan membawa seekor onta yang akan diwaqafkan (diserahkan) kepada patung Sa’ad agar dia mendapatkan kebarokahan daripadanya. Tatkala unta itu melihat tempat penyembelihan binatang yang dikorbankan untuk berhala penuh berlumuran darah, tiba-tiba onta yang dibawanya ditu lari tunggang langgang. Maka marahlan laki-laki tersebut, sambil marah-marah patung berhala Sa’ad itu dilempari dengan batu dia berdoa, “Mudah-mudahan Alloh tidak memberi barokah kepadamu, karena kamu telah membikin lari ontaku. Dia pun berdendang :

 

Aku telah datang kepada berhala Sa’ad agar menghimpun persatuan kami, Tetapi berhala Sa’ad telah memporak-porandaknnya, maka bukanlah aku termasuk penyembah berhala Sa’ad Bukankah berhala Sa’ad tiada lain hanyalah sebongkah batu di suatu tanah tinggi, yang dia tidak bisa memanggil orang yang sesat maupun orang yang benar (mendapat petunjuk).

 

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa orang-orang Quraisy dan Bani Kinanah memilik berhala Uzza yang berada di tanah Nakhlah, di antara kota Mekah dan Tho’if. Berhala tersebut berupa sebuah pohon, salah satu tiga pohon kelampis yang disitu dibangun sebuah bangunan rumah yang diberi tabir oleh orang-orang Bani Syaiban termasuk dari Bani Sulaim ahli sumpahnya Abu Tolib. Uzza ini adalah berhala yang diagungkan dan dimuliakan oleh orang-orang Quraisy. Maka dari itu ketika Abu Sofyan merasa menang dalam perang Uhud dia berkata, “Kami memiliki berhala Uzza dan kamu tidak memiliki berhala Uzza (yang memberi kemenangan kepada kami)”. Ketika itu Rosululloh SAW bersabda, “Jawablah :Alloh adalah Tuhan kami tidak ada Tuhan bagimu”.

 

Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Mirdawaih meriwayatkan ketika Fathu Makah, Rosululloh mengutus Khalid bin Walid untuk menghancurkan berhala Uzza, maka ditebanglah tiga pohon kelampis dan dibumiratakan bangunan rumahnya. Setelah itu Khalid bin Walid pulang melapor kepada Rosululloh SAW, tetapi Rosul bersabda, “Wahai Khalid kembalilah, sesungguhnya kamu belum berbuat apa-apa”. Maka Kholid bin Walid kembali ke Nakhlah. Ketika dia sampai di tempat tersebut, Kholid melihat orang-orang yang naik ke gunung mencari berhala Uzza sambil berteriak, “Wahai Uzza! Wahai Uzza!”. Kholid bin Walid pun mendekatinya dan dia melihat seorang wanita yang telanjang bulat, terurai rambutnya mengambil debu dengan kedua telapak tangannya, disawurkan ke atas kepalanya. Ketika itu Kholid bin Walid tanggap bahwa perempuan itulah yang dimaksud Rosululloh, maka dihunuslah pedang Kholid bin Walid dan ditebaskanlah ke leher wanita itu sampai mati. Kemudian Kholid bin Walid pulang melapor kepada Nabi. Nabi bersabda, “Dia itulah Uzza”. (Jadi Uzza adalah jin yang bertempat di tempat yang dipuja-puja tersebut).

 

Berhala Laata adalah berhala milik Bani Tsakif di Tho’if dan yang membuat tabir untuknya adalah orang Bani Mu’tab dari Tsakif. Imam Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa berhala Laata adalah sebongkah batu putih besar yang diukir. Di atasnya dibangun sebuah rumah yang ditutup dengan tabir. Di sekitarnya terdapat halaman yang luas untuk kepentinganpemujaan bagi orang-orang Tsakif, utamanya ketika mereka akanb berangkat perang. Mereka memuliakannya dan meminta agar diberi keselamatan dan kemenangan. Mereka sangat membanggakan Laata dihadapan musuhnya. Ibnu Hisyam berkata, Rosululloh mengutus sahabat Mughiroh bin Syu’bah, maka Mughiroh pun menghancurkan berhala Laata dan membakarnya.

 

Berhala Manaat adalah milik orang-orang Aus dan Khozroj dan orang-orang yang seagama dengan mereka dari orang-orang Yatsrib (Madinah). Tempatnya di pantai Musyallal di tanah Qudaid, tempat di antara Mekah dan Madinah. Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Rosululloh mengutus Ali bin Abi Tolib untuk menghacurkannya pada saat Fathu Makkah. Tiga berhala inilah yang disebut dalam Al Qur’an surat An Najm ayat 19-20 :

 

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى* وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى*

“Adakah kalian melihat berhala Laata dan Uzza dan berhala Manaat berhala lain yang ketiga itu. (mempunyai kekuasaan atau kemampuan?)

 

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Amr bin Jamuh seorang kepala desa dari bangsawan Bani Salimah adalah orang yang paling dihormati oleh rakyatnya. Dia mempunyai sebuah patung yang terbuat dari kayu diberi nama Manaat. Ketika ada dua orang Bani Salimah masukn Islam, yaitu Mu’ad bin Jabal dan anak Amr bin Jamuh sendiri yaitu Mu’ad bin Amr, keduanya bersama yang lain termasuk orang yang hadir dalam Bai’at Aqobah. Mereka mengambil patung Amr bin Jamuh pada waktu malam dan membawanya ke jumbleng (lubang galian yang penuh dengan kotoran manusia). Kemudian patung tersebut dimasukkan ke dalam jumbleng dengan kepala di bawah. Pagi harinya Amr bin Jamuh berkata, “Celakalah orang-orang yang memusuhi tuhan-tuhan kami malam ini”. Kemudian ia mencarinya dan menemukan patungnya berlepotan kotoran manusia dalam lubang tersebut. Maka diambilnya patung tersebut, dibersihkan dan disucikan kemudian dia berkata, “Demi Alloh jika aku mengetahui orang yang memperlakukan kamu begini, pasti kuhinakan dia.’ Pada malam berikutnya mereka melakukan hal sepeti itu seperti malam sebelumnya. Dan Amr bin Jamuh melakukan hal yang dilakukan sebelumnya juga, begitu terus keadaannya sampai berkali-kali. Akhirnya Amr bin Jamuh jengkel, setelah patung berhala ditempatkan kembali di tempat semula, ia pun datang dengan membawa pedang dan mengalungkan pedang tersebut ke berhalanya. Sambil mengatakan, “Demi Alloh aku tidak mengerti orang yang memperlakukan kamu demikian rupa. Jika memang ada kebaikan di dalam dirimu, maka cegahlah orang yang akan memperlakukan kamu dengan pedang ini.’ Ketika malam tiba, mereka mengambil pedang tersebut. Kemudian mereka mengambil bangkai anjing diikatkan pada berhala tersebut denga tali, dan keduanya dimasukan ke dalam sumur yang penuh dengan kotoran manusia. Ketika itu barulah sadar Amr bin Jamuh sadar akan keadaannya (kekeliruaannya). Maka ketika seorang penduduk Bani Salimah yang sudah masuk Islam amar ma’ruf kepadanya, langsung dia insaf, masuk Islam dan baik dalam Islamnya.

 

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa bangsa Arab disamping telah menjadikan kabah sebagai sentra kegiatan ibadah, mereka juga memilih Thoghut (patung berhala) yang ditempatkan di suatu tempat, mereka menghormatinya seperti mereka menghormati kabah. Mereka menutupinya dengan selambu seperti layaknya kabah. Mereka menyembelih hewan kurban untuk berhala mereka seperti mereka lakukan di kabah. Mereka mengelilinginya seperti mereka thowaf di kabah. Bahkan di rumah masing-masing mereka mempunyai patung yang disembah. Jika mereka bepergian mereka menggantungkan ijin dari berhala mereka dengan cara mengusapnya. Diantara mereka kalau bepergian lantas mampir di suatu tempat, mereka mengambil emapt buah batu, batu yang paling bagus dipilih untuk disembah dan tiga lainnya dipakai untuk tungku masak.

 

Abu Roja’ Al Uthoridy berkata, “Pada zaman jahiliyah kami menyembah batu, ketika kami menemukan batu yang lebih baik maka dibuanglah batu yang disembah sebelumnya. Jika kami tidak menemukan batu untuk disembah, maka kami mengumpulkan secawuk debu kemudian kami memerah susu kambing kami di atas secawuk tumpukan debu tersebut lantas kami menyembah dan thowaf mengelilinginya. Kami menyembah batu putih cukup lama tapi akhirnya kami buang juga”.

 

Abu Utsman An Nahdi berkata, “Kami pada zaman jahiliyah menyembah batu, tiba-tiba kami mendengar seseorang memanggil, “Wahai ahli rumah, sesungguhnya tuhanmu telah rusak, maka carilah tuhan lagi”. Maka kami naik turun gunung untuk mencarinya. Tiba-tiba kami mendengar orang memanggil, “Sesungguhnya kami telah menemukan tuhan kamu dan yang mirip dengannya.” Tiba-tiba kami melihat sebongkah batu, maka kami menyembelih unta untuk batu berhala tersebut.

 

Amr bin Abasah berkata, “Dulu kami menyembah batu, jika kami mampir di suatu desa yang tidak ada tuhan (berhala) di dalamnya maka salah seorang dari kami keluar dan kembali dengan membawa empat buah batu. Tiga untuk memasak dan satu yang terbaik untuk disembah. Tapi kalau menemukan batu yang lebih baik lagi, maka batu yang pertama dibuang diganti dengan batu yang lebih baik. Setelah itu ditinggalkan lagi dan mencari batu lainnya yang lebih baik lagi begitu seterusnya. Ketika Fathu Makkah dijumpai ada 360 berhala di sekeliling kabah, oleh Rosululloh mata dan wajah berhala ditusuk dengan anak panah, ssambil bersabda : جاء الحق وزهق البطل maka rontoklah berhala-berhala tersebut. Kemudian Nabi memerintah kepada para sahabat supaya berhala-berhala tersebut dikeluarkan dari Masjidil Haram dan dibakar.

 

Nukilan sejarah pergeseran keimanan dari ajaran agama yang haq menjadi perbuatan penyembahan berhala ini merupakan upadaya syetan dalam menyesatkan manusia sehingga terjerumus ke dalam perbuatan syirik (menyekutukan Alloh). Syetan telah berhasil mempermainkan orang musyrik dengan tipu dayanya dalam peribadatannya kepada berhala dengan bermacam-macam sebab antara lain :

 

–          Mereka memuja berhala karena mengagungkan dam memuliakan orang-orang yang sudah mati melebihi dari yang dibenarkan oleh Alloh dan RosulNya. Seperti kaum nabi Nuh, mereka menyembah kepada berhala Wad, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Naser yang di masa-masa hidupnya mereka adalah orang-orang sholeh, terpandang di masyarakat, terhormat dan mempunyai kelebihan dibandingkan orang pada umumnya. Setelah mereka mati, syetan merekayasa agar supaya pada akhirnya mereka dijadikan tugu, patung yang disembah.

 

Syetan tidak tergesa-gesa dalam mencapai sasaran yang diinginkan, syetan bersabar sampai bertahun-tahun bahkan berabad-abad sehingga  kesempatan itu datang ketika mereka berhasil mengarahkan manusia, senang beribadah kepada Alloh di dekat tugu-tugu berhala, tempat yang sepi, tempat yang dikeramatkan. Tempat-tempat tersebut secara perlahan telah dijadikan tempat yang suci menyamai atau melebihi masjid-masjid sebagai tempat beribadah yang sebenarnya. Akhirnya manusia benar-benar ta’dzim, menghormat, mengagungkan, memuliakan tempat yang dikeramatkan menjadi tempat-tempat yang dianggap bisa mempercepat tercapainya keinginan mereka. Mereka menjadikan orang-orang yang telah mati atau jin yang menunggui tempat yang dikeramatkan itu menjadi wasilah (perantara), terkabulnya doa mereka seolah-olah orang-orang yang telah mati atau jin itulah yang berjasa besar terhadap terkabulnya doa. Celakanya mereka tidak merasa dengan perbuatannya yang seperti itu, mereka telah beribadah kepada berhala yang sangat dilarang oleh Alloh SWT.

–          Datangnya seseorang di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti ke kuburan-kuburan, pesarean-pesarean, penembahan-penembahan, ke tampat-tempat yang ada pohon-pohonan, batu-batuan atau sumur tua, sumber mata air dan lain sebagainya yang dianggap keramat dengan rasa ta’dzim, hormat, memuliakan, mengagungkan, khusyu’, tawadhu’, tadhorru’, perasaan pasrah, perasaan berlindung, minta tolong, minta keselamatan, berharap belas kasihnya orang yang mati disitu atau eyang-eyang sepuh yang menunggu di tempat tersebut. Apalagi lebih percaya dengan omongannya juru kunci yang kemasukan jin yang mereka mengaku roh-roh/arwah-arwah orang-orang yang diagungkan. Walaupun mengaku arwahnya orang-orang yang sholeh, arwahnya para Wali bahkan para Nabi sekalipun itu berarti mereka telah beribadah kepada orang-orang mati, jin dan batu atau kayu yamg dianggap keramat.

–          Ada lagi orang-orang yang memburu harta terpendam. Mereka diajak nyepi/nepi, bersemedi atau bermeditasi di tempat-tempat yang dikeramatkan. Kadang-kadang mereka diperlihatkan tumpukan uang atau emas murni atau benda-benda berharga lainnya. Kemudian mereka diberi janji, bisa mengambil harta tersebut dengan syarat supaya menyembelih kambing kendit atau ayam cemani di tempat keramat tersebut atau bisa diambil dengan pusaka-pusaka sakti yang harus dicari lebih dahulu atau dengan minyak wangi tertentu agar orang yang menjadi mediator bisa mengambilnya. Ini semua kebohongan syetan untuk menipu manusia. Tumpukan uang atau emas murni atau benda berharga lainnya yang dilihat mereka hanyalah merupakan sihir syetan, tipu daya syetan agar seseorang semakin jauh terjerumus ke alam mistik dan semakin berat melepas kepercayaan syiriknya. Karena sebenarnya syarat-syarat yang dibuat oleh syetan intinya hanya untuk memperpanjang penipuan syetan kepada manusia. Ada juga dari emas yang kelihatannya bertumpuk-tumpuk hanya diberikan satu lempeng satu kilogram emas, tetapi dengan syarat jangan dijual karena kalau dijual akan kembali menjadi besi biasa atau jadi batu atau bentuk lainnya dari barang yang tidak berharga. Memang sebenarnyalah  barang tersebut aslinya bukan emas, karena sihir syetan itu saja jadi kelihatan emas beneran, padahal bukan.

 

Kadang-kadang penyembah kuburan dan tempat yang dikeramatkan lainnya dibikin terkagum-kagum oleh juru kunci yang kesurupan dengan mengatakan peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi di masa mendatang, atau kehadiran para pendatang ditebak bahwa kamu ini masih cucuku karena kamu masih keturunan si anu, si anu. Atau ditebak bahwa di rumah bahwa di rumah kamu ada batu ini batu itu, pohon ini pohon itu, yang kesemuanya itu hanya auntuk meyakinkan kepada para pendatang bahwa juru kunci yang menunggu di tempat itu adalah orang yang waskito, weruh sak durunge winarah agar para pendatang menjadi semakin lebih yakin kehebatan tempat keramat tersebut. Kenapa juru kunci kadang-kadamg bisa menceritakan keadaan rumah tangga, atau yang ada pada lingkungan keluarganya, atau kadang bisa menceritakan apa-apa yang belum terjadi dan lain sebagainya? Ini semua adalah permainan syetan dan jin untuk meyesatkan manusia. Tiap-tiap orang paling sedikit diikuti satu jin (Jin Qorin). Jin-jin yang mengikuti para pendatang ini memberi tahu keadaan rumah tangga atau lingkungan keluarga para pendatang kepada jin yang mengikuti juru kunci. Kemudian jin yang mengikuti uru kunci memberi tahu atau membisiki si juru kuncia. Juru kunci akhirnya bisa menceritakan apa-apa yang ada pada pendatang dan para pendatang kagum dengan omongan si juru kunci.

 

Sebagai seorang mukmin tidak perlu heran, tidak perlu kagum, dan tidak perlu terperosok ke dalam tipu daya syetan ini. Syetan kadang-kadang mendapat berita benar dari langit tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, lalu berita itu dihiasi dengan seratus kebohongan. Ratusan kebohongan syetan dipercaya semuanya padahal yang benar cuma satu. Inilah sebagian keadaan orang-orang yang menyembah tempat-tempat yang dikeramatkan yang apabila mereka dikatakan telah menyembah tempat yang dikeramatkan, mereka menolak dan mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka, tetapi mereka yang telah mati hanya kami jadikan perantara untuk mendekatkan diri kami kepada Alloh”. Ini seperti perkataan orang-orang yang musyrik zaman jahiliyah dulu. Firman Alloh dalam surat Azzumar ayat 3 :

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ*

 

Ketahuilah bahwa milik Allohlah agama yang murni itu dan orang-orang yang menjadikan selain Alloh menjadi beberapa kekasih/tuhan-tuhan (mereka berkata), “ Kami tidak menyembah (beribadah) kepada mereka kecuali mereka 9orang-orang yang telah mati) itu kami jadikan perantara untuk mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.”

 

Ayat di atas, Alloh menghukumi orang yang menjadikan orang yang telah mati menjdai perantara berarti telah menjadikan kepada selaian Alloh menjadi kekasih (tuhan) berarti mereka telah melakukan syirik akbar. Begitu pula orang-orang yang telah menjadikan kuburan para nabi dan prang-orang sholeh menjdai tempat beribadah (masjid), maka mereka adalah orang-orang yang dilaknat oleh Alloh dan menjadi sejelek-jelek manusia di sisi Alloh.

 

Imam Bukhori meriwayatkan ketika Rosululloh mendekati wafatnya maka beliau menutupi wajahnya dengan selimut dan ketika beliau merasa sangat bersedih beliau membuka selimut yang menutupi wajahnya, begitu berkali-laki lantas beliau bersabda :

لعنة الله على اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساحد يحذر ما صنعوا* رواه البخارى

Laknat Alloh semoga tetap atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan kuburan para nabi mereka menjadi tempat bersujud (beribadah). Nabi memperingatkan apa yang telah mereka perbuat (supaya tidak terjadi pada umatnya).

 

Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa sahabat Jundab mendengar Nabi 5 hari sebelum wafat beliau berkata :

 

الا وان من كان قبلكم كانو يتخذون قبور انبيائهم وصاليحهم مساجد الا فلا تتخذوا القبور مساجد اني انهاكم عن ذالك* رواه مسلم عن جندب

Ketahuilah sesungguhnya oang-orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka dan kuburan orang-orang yang sholeh di antara mereka menjadi masjid-masjid (tempat ibadah). Ketahuilah janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan menjadi masjid-masjid (tempat beribadah). Sesungguhnya aku (Nabi) melarang kalian dari perbuatan itu.

 

عن ابن مسعود رضيالله عنه مرفعا ان من شرار اناس من تدركهم الساعة وهم احياء والذين يتخذون القبور مساجد* رواه ابو حاتم وابن حبان

Dari Ibnu Mas’ud hadits marfu’, “Sesungguhnya sejelk-jeleknya manusia adalah orang-orang yang menjumpai hari kiamat sedangkan mereka masih hidup dan orang-orang yang menjadikan kuburan menjadi masjid (tempat beribadah).”

 

لا تجعلوا بيوتكم قبورا ولا تجعلوا قبري عيدا وصلوا علي فان صلاتكم تبلغني حيث كنتم* رواه اب داود عن اب هريرة

Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian menjadi kuburan, dan janganlah kalian menjadikan kuburanku (sebagai tempat) perayaan. Dan bacalah sholawat kepadaku, karena doa sholawat kalian itu akan sampai kepadaku dimana saja kalian berada.

 

اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد اشتد غضب الله على قوم اتخذوا قبور انبيائه مساجد* رواه مالك في الموطاء عن عطاء بن يسار

Ya Alloh janganlah Engkau menjadikan kuburanku (Nabi) menjadi berhala yang disembah, amat sangat kemurkaan Alloh kepada kaum yang menjadikan kubur nabinya sebagai masjid-masjid (tempat-tempat ibadah)

Generasi penerus/generasi muda yang merupakan tulang punggung suatu negara perlu dibekali dan dibina dengan sebaik-baiknya jangan sampai disia-siakan. Masa muda adalah masa emas dari umur manusia. Generasi penerus yang inilah yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan agama maupun memperjuangkan kehidupan pribadi sebagai makhluk sosial yang akan hidup di tengah masyarakat.. Dan ini dapat terlaksana apabila generasi penerus merupakan generasi yang ideal apabila berhasil memenuhi tiga kriteria yaitu :

  1. Memiliki Akhlaqul karimah (berkelakuan baik/budi luhur)

Salah satu misi Rosululloh adalah menyempurnakan akhlak yang mulia dan beliau sendiri telah menunjukkan keteladanannya kepada umatnya dengan akhlaqul karimah di dalam memimpin umat, menjalankan dan menyiarkan agama Alloh. Oleh sebab itu sudah selayaknya sebagai generasi penerus Muslim harus memiliki akhlaqul karimah dan menghindari su’ul khuluq (Akhlak yang jelek). Akhlak yang mulia adalah akhlaknya orang iman, akhlaknya ahli surga dan akhlak yang dicintai oleh Alloh. Dengan akhlak yang mulia remaja sebagai generasi penerus akan menjadi orang yang terhormat dan kehadirannya akan diterima dengan baik oleh lingkungan masyarakat.

Al Qur’an surat Al Ahzaab ayat 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap (ketemu) Alloh dan (kebahagiaan) di hari kiamat dan dia banyak dzikir kepada Alloh”

Al Qur’an surat Al Qolam ayat 4,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) niscaya memiliki akhlak yang mulia”

انما بعثت لاءتمم صالح الاخلاق*  رواه البخارى عن ابى هريرة

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Bukhori dari Abi Huroiroh)

 

عليك بحسن الخلق فان احسن الناس خلقا احسنهم دينا رواه الطبراني عن معذ

“Tetapilah ahlak yang baik, sesungguhnya manusia yang lebih baik akhlaknya lebih baik pula agamanya”

ان مكارم الاخلاق من اعمال اهل الجنة رواه ابن اب دنيا

“Sesungguhnya akhlak yang mulia termasuk amalannya ahli syurga”

ان الله تعلى يحب مكارم الاخلاق ويبغض سفسافها رواه ابن اب دنيا

“Sesungguhnya Alloh yang maha luhur senang kepada akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang hina”

ان الرجل ليدرك بحسن الخلق درحة القائم الصائم رواه احمد عن عائشة

“Sesungguhnya bagi seseorang, dengan akhlak yang baik akan mencapai derajat ahli sholat dan ahli puasa”

Sebagai contoh tentang akhlak yang baik dan mulia, baik menurut pandangan manusia maupun agama (Qur’an Hadits) adalah : berbicara dan berbahasa yang baik, tata krama, sopan santun, unggah ungguh, papan-emapan-adepan, jujur, amanah, bisa dipercaya, silaturrohim, menghormat dan mengagungkan kepada orang yang lebih tua, dan khususnya berbakti kepada orang tua dan berusaha untuk menyenangkan hati mereka, dan lain-lain. Adapun contoh budi pekerti yang jelek adalah : berdusta, menipu, ingkar janji (khianat), sombong, menghina, dengki, meremehkan, drengki, iri hati, dendam dan lain-lain perbuatan yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain.

 

  1. Alim dan Faham agama (Faqih)

Berpegang kepada sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, bahwa :

العلم حياة الاسلام وعماد الائميمان رواه اب الشيخ عن ابن عباس

“Ilmu (Qur’an Hadits) adalah hidupnya Islam dan tiangnya keimanan”

تفقهوا قبل ان تسودوا رواه البخاي

“Mencarilah kepahaman (agama) sebelum kalian semua diserahi suatu tanggung jawab”

Maka tidak bisa ditawar lagi bahwa generasi penerus harus menjadi orang alim (memiliki ilmu Qur’an Hadits) dan memiliki kepahaman yang tinggi sebagai persyaratan utama untuk kelangsungan Qur’an Hadits ila. Sebab remaja yang bodoh dan tidak paham agama bukan ahlinya untuk diserahi tanggung jawab mengurus agama ini dan pasti akan merusak masa depan dan kelangsungan Qur’an Hadits. Lihat dalil-dalil dibawah ini:

ان الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى اذا لم يبق عالما التخذ الناس وئوس جهالا فسئلوا فافتوا بغير علم فضلوا واضلوا رواه البخاى عن عبدالله ابن عمرو بن العاص

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mencabut ilmu yang telah diberikan kepada hambaNya dengan mencabut ilmu tersebut, akan tetapi Alloh mencabutnya dengan cara mewafatkan para ulama’. Sehingga manakala tidak tersisa seorang alim pun maka manusia mengangkat pemimpin orang-orang yang bodoh (tidak paham), ketika mereka (pemimpin bodoh) ditanya, maka mereka akan memberi fatwa tanpa dasar ilmu, maka mereka sesat dan meyesatkan”

اذا وسد الامر الى غير اهله فانتظر الساعة رواه البخارى عن اب هريراة

“Ketika suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kerusakannya)”

  1. Mempunyai ketrampilan untuk hidup mandiri

Generasi tua tentunya ingin meninggalkan generasi penerusnya dalam keadaan yang kuat, baik jasmani, rohani maupun ekonominya dan tidak ingin meninggalkan generasi penerusnya dalam keadaan yang lemah dan du’afa. Karena dengan dukungan ekonomi yang mantap, selain bisa untuk mencukupi keperluan hidupnya, urusan ibadah dan perjuangannya juga menjadi lebih lancar. Apalagi di zaman akhir seperti ini, baik urusan dunia maupun akhirat diperlukan biaya dan dana yang cukup banyak. Pepatah mengatakan Jer Basuki Mawa Beya. Selain itu jika remaja Islam bisa mandiri, maka mereka akan lebih percaya diri, karena tidak bergantung kepada orang lain dan pada akhirnya bisa lebih semangat dalam memperjuangkan Qur’an Hadits tanpa harus didikte dan dipengaruhi oleh orang lain yang tidak beriman. Lihat dalil-dalil di bawah ini :

 

انك ان تترك ورثتك اغنياء خير لهم من ان تتركهم عالة يتكففون الناس رواه النساء عن سعد

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan melarat dan meminta-minta kepada orang lain”

اذا كان في اخر الزمان لا بد للناس من الدراهم والدنانير يقيم الرجل بها دينه ودنياه رواه الطبرانى عن المقدام

“Ketika telah berada di zaman akhir, maka tidak bisa tidak (pasti) bagi manusia harus memiliki dirham-dirham dan dinar-dinar, untuk mengakkan agamanya dan dunianya dengan dirham-dirham dan dinar-dinar itu”

Untuk mencapai keberhasilan tersebut tentunya tidak lepas dari peranan berbagai pihak terutama peranana orang tua. Karena bagi orang tua mempunyai anak adalah amanat yang harus dididik dan diramut tentang agamanya dan akan dimintai pertanggungjawaban sampai dihadapan Alloh nanti. Di tangan orang tua watak dasar dan kepribadian anak akan terbentuk. Lihat dalil di bawah ini

كل انسان تلده امه على الفطرة وابواه بعد يهودانه وينصرانه ويمجسانه فان كانا مسلمين فمسلم رواه مسلم عن ابى هريرة

“Tiap-tiap manusia dilahirkan oleh ibunya atas fitroh (bersih dari dosa), kemudian setelah itu kedua orang tuanya yang menjadikan anak itu yahudi, nashroni, atau majusi. Jika kedua orang tuanya Islam, maka seharusnya anaknya juga Islam”

Dalam hal ini, kedua orang tua sudah semestinya paling termotivasi untuk membimbing dan mendidik kepada anak-anaknya. Orang tua sama sekali tidak boleh dayust, sembrono, embuh ora weruh terhadap pendidikan anak-anaknya. Orang tua harus mengontrol dan mengevaluasi proses pendidikan anak-anaknya untuk menjadi anak yang sholih dan sholihat. Perhatikan dalil-dalil di bawah ini :

ياايها الذين امنوا قوا انفسكم واهلكم نارا  سورة التحريم

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan ahli kalian dari api neraka…”

حق الولد على الوالد ان يعلمه الكتابة والسباحة والرماية وان لا يرزقه الا طيبا رواه البيهقي عن ابي رافع

“Kewajiban orang tua terhadap anaknya yaitu mengajarkan tulis menulis, berenang, memanah dan tidak memberi rezeki kecuali yang baik (halal)”

لان يؤدب الرجل ولده حير له من ان يتصدق بصاع رواه الترم     ذى عن جابر بن سمرة

“Sesungguhnya bahwa seseorang memberi pelajaran budi pekerti kepada anaknya itu lebih baik baginya daripada mengeluarkan shodaqoh satu sho’.

مروا الصبي بالصلاة اذا بلغ سبع سنين واذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها رواه ابو داود عن سمرة

“Perintahlah anak kecil untuk mengerjakan sholat ketika menginjak umur 7 tahun, dan ketika telah berumur 10 tahun maka pukullah dia untuk mengerjakan sholat”

اربع من سعادت المرء ان تكون زوجته صالحة واولاده ابرارا وخلطاؤه صالحين وان يكون رزقه في بلده رواه ابن عساكر عن على بن ابى الدنيا

“Ada 4 (empat) perkara yang merupakan kebahagiaan/keberuntungan seseorang yaitu bahwa istrinya adalah wanita yang sholihat, anak-anaknya berkelakuan yang baik, teman bergaulnya yang sholih dan rezekinya (mata pencahariannya) di negeri sendiri”

اذا مات الانسان انقطع عنه عمله الا من ثلاثة اثياء من صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعوله رواه ابو داود عن ابي هريوة

“Ketika manusia telah mati maka putuslah darinya semua amalnya kecuali tiga perkara. Yaitu : shodaqoh jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang sholih yang selalu mendoakan/memintakan ampun kepadanya”

Anak yang sholih sholihat merupakan tambang emas bagi kedua orang tuanya, baik di dunia maupun di akherat. Tetapi sebaliknya apabila orang tua lengah dan sembrono dalam mendidik mereka sehingga mereka akan menjadi anak yang durhaka. Semestinya anak menjadi permata hati akan berbalik menjadi musuh yang menyengsarakan di dunia dan akherat. Dalam hal ini Rosululloh pernah memberi peringatan dalam sebuah hadits :

ليس عدوك الذي ان قتلته كان لك نورا وان قتلك دخلت الجنة ولكن اعدى عدولك ولدك الذى خرج من صلبك ثم اعدى عدو لك مالك ال  ى ملكت يمينك رواه الطبرانى عن ابى مالك الاشعرى

“Musuhmu bukanlah seseorang yang jika engkau bunuh maka bagimu adalah cahaya dan bukanlah seseorang yang jika membunuhmu maka engkau masuk syurga, tetapi musuhmu (yang paling besar) adalah anakmu yang keluar dari tulang rusukmu dan harta yang kamu miliki”

Peranan para pemimpin-pemimpin dalam memberikan dukungan, motivasi, perhatian dan keseriusan terhadap kegiatan-kegiatan generasi muda sangat menentukan juga di samping peranan orang tua. Nasehat-nasehat yang baik, yang menyejukkan dan yang dapat menambah semangat ibadah dan perjuangan juga sangat diharapkan.

Jajaran pengurus terutama para pengurus di tingkat takmir masjid harus dapat membantu dan memperkuat program yang diadakan untuk pembinaan generasi penerus. Sarana dan prasarana untuk kelancaran program pendidikan dan pembinaan ini sangat mempunyai arti yang cukup penting. Wahana-wahana yang sesuai dengan jiwa muda yang tetap dalam koridor tuntunan Qur’an Hadits perlu diperhatikan.

Peranan para ulama, muballigh dan muballighot sangat penting sekali, karena dari mereka para generasi muda menyerap ilmu Qur’an Hadits sebagai bekal untuk melaksanakan kewajiban ibadah dan perjuangan. Semangat, kesabaran, dan ketelatenannya dalam menyampaikan ilmunya, dan mampu memberikan contoh-contoh perilaku yang baik sehingga bisa menjadi panutan dan tokoh idola bagi para remaja dan generasi muda.

Peran serta para pakar pendidik sangat diharapkan bisa mengejawantahkan metode-metode dan model dalam pendidikan dan pembinaan generasi penerus yang baik, benar dan efektif sehingga ilmu-ilmu yang sudah jelas benarnya (Qur’an Hadits) dan jelas menguntungkan bisa diterima dengan senang hati, bangga dan penuh antusiasme oleh para remaja dan generasi muda dalam mencapai tujuan dan keberhasilan yang nyata sesuai dengan harapan.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang merupakan salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia mempunyai dua buah buku pedoman yaitu Al Qur’an dan Al Hadist. Rosululloh SAW bersabda : “Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Kitabulloh (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya” (HR Muwattho Malik). Mengenai Al Hadist, LDII menggunakan semua kitab Hadist, utamanya Kutubus-sittah (Kitab yang Enam), yang terdiri dari Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah.

Sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an, Al Hadits, Ijma dan Qiyas. Contoh Ijma’ : Penerapan adzan ke-3 pada hari Jum’at yang dilakukan pertama kali pada waktu zaman Khalifah Ustman bin Affan r.a. Contoh hukum Qiyas : Zakat fitrah pada zaman Rosululloh antara lain adalah kurma dan gandum, sedangkan bagi penduduk di Indonesia beras sebagai penggantinya karena beras diqiyaskan dengan gandum, karena sama-sama makanan pokok.

Di dalam mempelajari Al Qur’an dan Al Hadits, LDII menggunakan metode pengajian tradisional, yaitu seorang Guru mengajar kepada murid secara langsung. Adapun materi yang dikaji meliputi tentang bacaan, makna dan keterangan sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. Dengan metode seperti ini maka sering dinamakan metode “Manquul”. Manqull berasal dari bahasa Arab “Naqola-Yanqulu”, yang artinya adalah pindah. Maka ilmu yang “manquul” adalah ilmu yang dipindahkan dari guru kepada muridnya. Dalam pelajaran tafsir, “Tafsir Manquul” berarti mentafsirkan suatu ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an lainnya, mentafsirkan ayat Al Qur’an dengan hadits, atau mentafsirkan Al Qur’an dengan fatwa Shohabat. Dalam ilmu hadits, “manquul” berarti belajar hadist dari guru yang mempunyai isnad sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan ilmu alat yang digunakan dalam mendalami Al Qur’an dan Al Hadits, ulama LDII menggunakan ilmu alat juga seperti ilmu nahwu, shorof, badi’, ma’ani, bayan, mantek, balaghoh, usul fiqih, mustholahul hadits, dan sebagainya. Kitab tafsir yang menjadi rujukan LDII diantaranya adalah tafsir Jalalain, tafsir Jamal, tafsir Ibnu Katsir, tafsir At Thobari, tafsir Ibnu Hatim, tafsir Depag dan lain-lainnya.

Metode pengajian yang moderat ini merupakan daya tarik tersendiri bagi yang memang ingin mendalami tentang Al Qur’an dan Al Hadits. Sehingga aktivitas pengajian di LDII cukup tinggi, karena Al Qur’an dan Al Hadits itu merupakan bahan kajian yang cukup banyak dan luas. Di tingkat PAC umumnya pengajian diadakan 2-3 kali seminggu, sedangkan di tingkat PC diadakan pengajian seminggu sekali. Hal inilah yang menyebabkan tempat-tempat pengajian LDII selalu ramai dikunjungi warganya.

Adapun motivasi warga LDII untuk aktif dalam mengikuti pengajian adalah : Pertama, untuk memenuhi kewajiban mencari ilmu berdasarkan firman Alloh, “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh” (QS. Muhammad ayat 19). Dan sabda Rosululloh, “Mencari ilmu itu wajib bagi orang Islam” (HR Ibnu Majah). Kedua, sebagai landasan untuk melaksanakan ibadah (beramal).

Pondok-pondok Pesantren LDII tidak hanya mengajarkan ilmu agama kepada santrinya, tetapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum seperti ilmu sosial kemasyarakatan, kewirausahaan, dan kursus-kursus ketrampilan. Ilmu pengetahuan tersebut diajarkan untuk sebagai bekal mencari ma’isyah (nafkah) yang halal untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Khutbah Jum’at di LDII menggunakan bahasa Arab karena tidak ada satupun Ulama yang menyatakan bahwa khutbah Jum’at dengan menggunakan bahasa Arab itu tidak sah, walaupun jama’ah sholat Jum’at tidak seluruhnya mengerti dan memahami isi khutbah. Hal ini bisa dilihat ketika musim haji dimana Imam Masjidil Haram menyampaikan khutbah berbahasa Arab, sedangkan mustami’in yang datang dari seluruh penjuru dunia belum tentu bisa mengerti dan memahami isi khutbah.

Setelah melakukan sholat Jum’at biasanya diadakan nasehat agama, dan ini tidak mesti karena pada dasarnya memberikan nasehat itu bisa dilakukan disetiap ada kesempatan. Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan waktu, sebab biasanya sesudah sholat Jum’at orang-orang masih berkumpul, kesempatan ini digunakan untuk memberikan tausiah/nasehat (mau’idlotul hasanah). Adapun nasehat setelah sholat Jum’at ini tidak harus dikerjakan karena bukan merupakan rangkaian sholat Jum’at.

Teknik dan cara mengumpulkan shodaqoh yang biasanya dilakukan oleh warga LDII ada beberapa cara, diantaranya adalah : Pertama, langsung diserahkan kepada dan dicatat oleh pengurus LDII. Kedua, dimasukkan ke dalam kotak shodaqoh. Ketiga, dimasukkan ke dalam kain (sarung, sajadah, sorban) yang diedarkan. Keempat, dengan melempar uang shodaqoh ke lantai, untuk kemudian dikumpulkan olah pengurus. Mengenai metode mana yang dipilih, merupakan keputusan pengurus setempat. Namun sebagian LDII menyukai teknik dengan cara melempar. Selain praktis, melempar juga dapat menumbuhkan rasa “fastabiqul khoerot” (berlomba-lomba dalam kebaikan) tetapi niat hanya karena Alloh tetap dapat terjaga karena tidak ada yang tahu “siapa shodaqoh berapa”.

Ulama-ulama yang telah banyak berjasa dalam membesarkan LDII di antaranya adalah KH Kasmudi As-sidiqi, K.H.R. Iskandar Tondodiningrat, KH. Ahmad Tamam, KH. Zubaidi Umar, SH,  KH. Drs. Thoyyibun, Prof. Dr. Ir. KH Abdullah Syam MSc. KH. A.Karimullah, SE, KH. Nur Hasan, KH. Syu’udi Al Hafidz, KH. Mudzakkir, KH. M. Nur Ali, KH. Thoyyib Abdulloh dan lain-lain. Beberapa diantara Ulama LDII tersebut bukan lulusan pondok pesantren LDII saja tetapi juga lulusan pondok pesantren besar lainnya yang kemudian menjadi Ulama LDII. Adapun jumlah muballegh dan muballeghot yang ada di LDII jumlahnya ribuan yang tersebar di seluruh PC dan PAC untuk menyampaikan dakwah Al Qur’an dan Al Hadits.

Sesuai dengan paradigma barunya (new paradigm), LDII terbuka terhadap masukan-masukan baik masukan mengenai masalah organisasi maupun masalah agama. LDII secara proaktif bahkan mencari masukan-masukan dari berbagai kalangan. Dalam rangka mencari masukan tentang wawasan kebangsaan dan kenegaraan, LDII intens mengadakan audiensi dengan instansi terkait antara lain dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Mabes TNI, Mabes Polri. Silaturrohim dan meminta masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), bekerjasama dengan Insstitut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dalam rangka memberikan pelatihan dakwah kepada para muballegh-muballeghot LDII. LDII di daerah-daerah juga sering mengundang ulama-ulama di luar LDII untuk memberikan ceramah agama. Bagi LDII, segala bentuk masukan adalah merupakan nasehat yang tidak ternilai harganya. Sebab semua golongan Islam adalah bersaudara, sebagaiman sabda Rosululloh SAW: “Orang Islam adalah saudaranya orang Islam” (HR. Ahmad). Sesama golongan Islam tidak dibenarkan untuk saling merendahkan maupun menghina, sesuai firman Alloh : “Dan jangalah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, barangkali keadaan kaum yang direndahkan itu lebih baik dari kaum yang merendahkan” (QS. Al Hujurot ayat 11).

Anggapan bahwa LDII ekslusif sebetulnya tidak benar. Banyak dari warga LDII yang menjadi tokoh masyarakat, mulai dari ketua RT, ketua RW, Kades/Lurah, Camat dan seterusnya. Hanya saja karena aktifitas kegiatan pengajian di LDII sangat tinggi, menyebabkan kesempatan pergaulan di masyarakat menjadi berkurang sehingga terkesan eksklusif.

Idul Adha 2012 ini DPD LDII Kab. Tegal membagikan ribuan kantong daging kurban untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkannya. Pelaksanaan pemotongan hewan kurban dilaksanakan di masjid warga LDII Tegal. Seluruh warga LDII Kab. Tegal dan masyarakat sekitar masjid dengan semangat gotong royong bahu membahu demi suksesnya amal sholih ini.

Setelah melaksanakan Sholat Ied, langsung dilakukan penyembelehan hewan kurban berupa sapi dan kambing. Daging kurban yang terkumpul kemudian dimasukkan dalam wadah kantong plastik. Daging kurban ini kemuadian dibagikan kepada masyarakat sekitar. Bahkan di beberapa tempat warga LDII Tegal melibatkan pembagian daging kurban ini dengan melibatkan Ketua RT dan RW setempat sehingga memudahkan dalam pendistribusian. Alhamdulillah pelaksanaan berlangsung lancar.

Ketua DPD LDII Kab. Tegal, Drs. Walidi W., MM dalam perayaan Idul Adha 2012 ini mengatakan, bahwa idul kurban ini merupakan mengikuti sunah Nabi Ibrohim AS yang diperkuat Rosululloh SAW. Perayaan kurban ini mengandung semangat nilai-nilai berbagi terhadap sesama.